Friday, 15 May 2009

Perjuangan untuk Kelangsungan Hidup Orang Utan


Dalam pencaharian tentang asal usul umat manusia, antropolog tersohor Louis Leakey mengutus 3 wanita muda ke Afrika dan Asia untuk penelitian tentang keluarga terdekat manusia: Jane Goodall ke Simpanse, Dian Fossey ke Gorilla-gunung dan Mary Galdikas ke Orang Utan. Hampir 4 dasawarsa berlalu, Galdikas yang kini berusia 62 tahun adalah satu-satunya yang masih setia bekerja di lokasi semula.

Dalam pencaharian tentang asal usul umat manusia, antropolog tersohor Louis Leakey mengutus 3 wanita muda ke Afrika dan Asia untuk penelitian tentang keluarga terdekat manusia: Jane Goodall ke Simpanse, Dian Fossey ke Gorilla-gunung dan Mary Galdikas ke Orang Utan. Hampir 4 dasawarsa berlalu, Galdikas yang kini berusia 62 tahun adalah satu-satunya yang masih setia bekerja di lokasi semula. Dan primata merah yang dia teliti di Indonesia, berada pada ambang kepunahan, karena ruang hidup mereka harus mengalah terhadap perkebunan kelapa Sawit yang semakin hari semakin menguntungkan.

Galdikas amat risau, bahwa banyak sekali pertanyaan yang untuk selamanya tak akan terjawab. Sampai usia berapa Orang Utan dapat hidup di alam bebas? Berapa besar revier/wilayah kekuasaan para jantannya? Dengan berapa betina mereka kawin selama hidup mereka?

"Saya berusaha untuk tidak depresi" kata ilmuwan dari Kanada yang menetap di Tanjung Puting itu dan seraya membungkukkan badannya untuk mengangkat tinggi seekor bayi orang utan yatim-piatu yang induknya terbunuh tatkala mencari pangan di ladang.

"Akan tetapi, apabila kita menerawang wilayah ini dari udara, Anda akan terkaget-kaget. Yang terlihat hanya kelapa sawit di wilayah dimana sebelumnya hanya terdapat hutan tropis. Di sana sini ladang dan hutan yang sedang terbakar bahkan baru-baru ini telah mencapai perbatasan taman ini."

Kebutuhan akan minyak kelapa sawit meningkat tajam di Eropa dan AS, semenjak ia dipuji sebagai alternatif "bersih" dibandingkan dengan BBM yang selama ini umum dipakai. Indonesia adalah produsen terbesar minyak kelapa sawit dan "harga" yang harus dibayar untuk itu pada tahun lalu adalah peningkatan sebesar 70%.

Akan tetapi perkebunan kelapa sawit memusnahkan hutan hujan tropis dan menghasilkan hutan homogen/monokultur yang didalamnya orang utan tak dapat bertahan hidup. Beberapa tahun belakangan ini Galdikas telah berjuang melawan pembalak liar, pemburu liar dan penambang liar, toh bahaya bagi mahluk-mahluk yang ia lindungi tak pernah sebesar seperti sekarang ini.

Sesuai estimasi para ahli saat ini hanya terdapat 50.000 hingga 60.000 saja orang utan di alam bebas, 90% diantaranya hidup di Indonesia. Apabila hutan mereka dibabati terus, ini mengancam kelangsungan hidup mereka. Pada saat ini setiap jam pohon-pohon yang ditebangi seluas 300 buah lapangan sepak bola. Dan ancaman besar kebakaran hutan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penyebab emisi CO2 terbesar di dunia.

Taman Nasional Tanjung Puting yang seluas 4.150 km2 terletak di ujung selatan pulau Kalimantan. Orang utannya yang berjumlah 6.000 ekor yang terkena penyakit dan mati terbakar jelas lebih sedikit dibandingkan dengan satwa sejenis yang hidup di luar taman nasional. "Saya bukan seorang pesimis" kata Galdikas. "Namun apabila tidak dilakukan apapun, populasi orang utan di luar taman nasional hanya bertahan maksimal 10 tahun lagi."
Ibu dan Anak 8 Tahun Tak Terpisahkan

Tanjung Puting sendiri juga tidak aman. Problemnya sebagian terletak pada sebuah perselisihan antara pemerintah pusat dan propinsi mengenai jalur perbatasan. Andaikata propinsi yang dimenangkan, taman tersebut akan menyusut sebanyak 25 persen.

Galdikas studi antropologi di Los Angeles ketika ia pada tahun 1969 ketemu dengan profesor Leakey. Dia mengikuti idolanya yakni Goodalls yang dewasa ini terutama berdedikasi sebagai duta untuk permasalahan shimpanse, dan Fosseys yang pada tahun 1985 terbunuh di Ruanda. Ketika Galdikas pada permulaan tahun 1970-an mulai menetap di sebuah gubuk primitif di taman nasional Indonesia, tantangan pertamanya ialah terutama menemukan Orang Utan di pepohonan dengan ketinggian 30 meter. Akhirnya dia bahkan berhasil mengikuti mereka sebagiannya selama lebih dari beberapa minggu.

Dia menemukan bahwa Orang Utan betina menjadi ibu pada usia 15 tahun dan kemudian melahirkan hanya setiap 8-9 tahun. Hubungan antara induk dan anaknya termasuk paling erat diantara semua mamalia: Tujuh atau delapan tahun pertama keduanya tak terpisahkan. Sebaliknya sebagai satwa dewasa hidup mereka lebih sebagai penyendiri, mereka menggunakan waktunya untuk mencari buah-buahan atau tidur.
Melepas Ke Alam Bebas Yang Aman Semakin Sulit

Salah satu proyek terpenting Galdikas ialah sentral rehabilitasi di sebuah desa terletak di luar taman nasional. Tempat itu dipenuhi dengan 300 lebih satwa yatim-piatu yang induknya dibunuh oleh pekerja perkebunan. Oleh karena hutan raya itu telah lenyap, para Orang Utan menyerbu persawahan dan mencabuti tunas yang baru tertanam dari dalam tanah. „Banyak diantara mereka datang ke sini dengan luka parah, kekurangan gizi, trauma jiwa dan raganya“, kata sang ilmuwati tersebut. Dan semakin sulit saja untuk menemukan hutan yang aman dimana mereka seusai penyembuhan dapat dilepas kembali ke alam bebas.

Menteri Malem Kaban berkata, pemerintah Indonesia berupaya dengan perlindungan hutan belantara. Perijinan penebangan hanya boleh dilakukan maksimum dengan jarak 1 km dari perbatasan taman nasional. Akan tetapi sebuah perusahaan kelapa sawit telah memulai pekerjaan pembabatan hutan langsung pada perbatasan di sebelah utara dan meninggalkan sebuah lapangan-ilalang bekas pembalakan. 4 firma lainnya telah mengajukan ijin pada sisi timur dari taman.

Galdikas untuk sementara ini mengandalkan pertumbuhan turisme di taman nasional. Sebab untuk perlindungan alam tidak ada iklan yang lebih baik daripada menginap secara pribadi di rimba raya. Barang siapa pada suatu ketika bisa beruntung bertukar pandang dengan seekor Orang Utan, bahwa tak ada perbedaan antara manusia dan alam. Apabila mereka punah, kita kehilangan lagi sebuah keluarga di dunia ini. Dan apakah kita betul-betul hendak hidup sendiri di planet ini??“ (Whs)

http://www.orangutan.org

0 comments: