Aku, dan seorang saudaraku, rudi, berjalan berdua. Melewati pohon-pohon kopi, yang masih lebih tinggi dari kami pada saat itu. Tanah yang kami telusuri cukup subur, ceceran kopi yang jatuh dari pohonnya, bercampur dengan kotoran-kotoran sapi yang mungkin sedang dibawa pemiliknya melewati daerah tersebut. Kami menuju sungai, sungai yang lebar kalau menurutku saat itu. sungai yang belum tercemar, airnya bening.
Aku, dan seorang saudaraku, rudi, berjalan berdua. Melewati pohon-pohon kopi, yang masih lebih tinggi dari kami pada saat itu. Tanah yang kami telusuri cukup subur, ceceran kopi yang jatuh dari pohonnya, bercampur dengan kotoran-kotoran sapi yang mungkin sedang dibawa pemiliknya melewati daerah tersebut. Kami menuju sungai, sungai yang lebar kalau menurutku saat itu. sungai yang belum tercemar, airnya bening. Dan jika kita coba mengeruk pasir di sungai itu, akan tampak butiran-butiran keemasan, yang menurut saudaraku adalah emas mentah (Beberapa waktu yang lalu aku dengar ada investor yang membuka penambangan emas di daerah tersebut sekarang). Sampai di pinggir sungai, kami mulai melepas baju, dan menceburkan diri ke sungai, menikmati segarnya air saat itu. Kami bermain-main air, di aliran sungai yang agak tenang. Dia berenang kesana-kemari sedangkan aku yang tidak bisa berenang hanya main-main air saja di aliran sungai yang dangkal. Saudaraku mulai menawarkan satu permainan, "kintir-kintiran", kita menuju ke aliran sungai yang deras, salah satu dari kami menghanyutkan diri di aliran deras, dan yang satu melemparkan akar tanaman dari atas sungai sehingga pihak yang terhanyut menangkapnya dan selamat dari aliran sungai itu.
Aku menjadi pihak yang menjadi penyelamat di kesempatan pertama. Aku naik di bagian tinggi dari sungai, siap-siap dengan akar pohon yang panjang. Saudaraku menuju ke bagian aliran deras sungai. DIa mulai terhanyut... tangannya menjulur ke arahku, dan akupun melempar akar pohon kearahnya.... dia dengan sigap menangkap akar tersebut, dan tubuhnya pun terseret ke pinggir sungai, dia selamat.
Dan kemudian tiba saat aku menjadi "yang terhanyut". Saudaraku sudah siap diatas dengan akar yang akan dilemparkan. Ketika aku mulai menuju aliran deras sungai, "Blep blep blep!", aku baru sadar ternyata aliran deras itu dalam, kakiku tidak sampai ke dasar sungai, aku terhanyut dan mulai terseret arus. Saudaraku melempar akar pohon yang panjang itu..... aku berhasil menangkapnya... tapi...."trash!".. akar itu putus. Jadilah aku mulai menggapai-gapai ke bagian tepi sungai, namun arus sungai itu terus menyeretku jauh, entah seberapa jauh. Kakiku pun tidak juga menemukan pijakan didasar sungai. Nafasku mulai habis, aku mulai menghirup air sungai. Dan saat itulah, tiba-tiba kakiku menyangkut pada sesuatu. "Huarphh!". ternyata aku terseret ke bagian dangkal,. Masih di aliran deras sungai itu, aku berdiri, diam, mengatur nafas. Kulihat saudaraku berlari kearahku, aku masih tetap berdiri diam, menghilangkan kepanikan yang baru saja terjadi. Setelah semua kembali normal kami pun kembali ke rumah pamanku, dimana ia telah menyiapkan minuman aren panas yang rasanya khas.
(Mengikat kembali masa kecil di daerah Pesanggaran, Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur)
Tuesday, 26 May 2009
Ketika Batas Kehidupan Terlihat
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment