Senin, April 16, 2007
Beberapa waktu yang lalu , saya sedang sholat dhuhur di masjid kantor saya. Kebetulan cuaca saat itu agak mendung, selesai sholat, hujan mulai turun cukup deras. Sambil menunggu reda (karena jarak masjid dengan ruangan tempat saya bekerja cukup jauh) saya bercakap-cakap dengan rekan-rekan saya. Namun setelah beberapa saat kemudian hujan belum juga reda. Akhirnya saya berinisiatif memanggil salah satu dari bocah-bocah yang mengojekkan payung, yang saat itu mondar-mandir di depan masjid.
Beberapa waktu yang lalu , saya sedang sholat dhuhur di masjid kantor saya. Kebetulan cuaca saat itu agak mendung, selesai sholat, hujan mulai turun cukup deras. Sambil menunggu reda (karena jarak masjid dengan ruangan tempat saya bekerja cukup jauh) saya bercakap-cakap dengan rekan-rekan saya. Namun setelah beberapa saat kemudian hujan belum juga reda. Akhirnya saya berinisiatif memanggil salah satu dari bocah-bocah yang mengojekkan payung, yang saat itu mondar-mandir di depan masjid.
Saya panggil salah satu dari mereka, seorang bocah yang umurnya kira-kira 9-10 tahun. Dia memakai celana pendek, dengan payung ditangannya dan pakaian yang basah karena hujan. "Tolong anterin kakak ya,". "Kemana kak?", tanya bocah itu, "Ke gedung A", jawab saya. Sembari berjalan saya bercakap-cakap dengan bocah itu, "Nggak sekolah dik?". "Sudah pulang jam 12 tadi kak" jawabnya. "Ngojek payung disuruh orang tua atau keinginan sendiri dik?" tanyaku sambil meneruskan langkah, "Sendiri kak" jawabnya polos. "Trus uang dari ngojek dibuat apa?" tanyaku lagi. "Ditabung" jawabnya kemudian.
Sesampainya digedung tempat saya bekerja, saya pun memberikan uang yang sudah saya siapkan di saku kepadanya, "Makasih ya," ia pun segera beranjak mencari orang yang membutuhkan jasanya lagi.
Walau hanya beberapa pertanyaan yang saya ajukan, saya cukup tertarik dengan bocah tersebut, terlepas dari dia berkata bohong atau jujur. Yang pertama dia punya inisiatif untuk menambah penghasilan di sela-sela kesibukannya bersekolah. Kemudian dia bisa memanfaatkan peluang, dari cuaca yang cenderung seringkali terjadi hujan, sehingga dengan peluang itu ia berguna bagi orang lain sekaligus mendapatkan imbalan dari jasa yang ia berikan. Hal ini terasa luar biasa apabila kita bercermin dalam kehidupan di sekeliling kita, terutama di kota besar seperti Jakarta ini. Banyak sekali orang-orang yang mengaku tidak memiliki kesempatan untuk bekerja, dan memilih mencuri, merampok, membunuh bahkan menjual kehormatan demi mendapatkan uang yang mereka inginkan. Kenapa mereka tidak mencari peluang yang mempunyai nilai guna bagi orang lain, seperti Bocah Tukang Ojek Payung itu,,?. Tentu saja semuanya kembali ke hati nurani manusia itu sendiri. Pelajaran bagi saya pribadi adalah begitu banyak peluang yang ada bisa kita gunakan, kewajiban kita adalah melatih insting kita untuk bisa mengolah peluang-peluang itu agar bisa berguna bagi orang lain serta untuk diri kita sendiri. (dari yuafanda.blog.com)
Sunday, 17 May 2009
Pelajaran Dari Bocah Tukang Ojek Payung
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment