Friday, 13 November 2009

Sepulang dari lampung

Aku sampai di bandara sekitar jam 19.00 . Jakarta sedang bercuaca buruk, pesawat yang kami tumpangi terpaksa mendarat di landasan lain karena landasan yang semestinya tidak bisa dibuat landing karena hujan deras. Keluar dari terminal kedatangan, aku dan seorang teman mencoba menunggu taksi, dan karena tidak ada taksi yang sedang stanby kamipun menuju loket bus bandara untuk membeli karcis. Setelah mendapatkan tiket, aku dan temanku berdiri di tempat menunggu bus bandara. Beberapa saat kemudian ada seorang lelaki, kira-kira berumur 60-70 an, masih berbadan sehat melewatiku. Begitu melihat wajahnya aku langsung tahu bahwa aku mengenal orang ini. Aku tersenyum kepadanya sambil menganggukkan kepala sedikit, menunjukkan rasa hormat. Beliau tersenyum juga sambil menganggukkan kepala juga kearahku. Laki-laki itu membawa tas ditangannya, kelihatannya beliau juga menunggu bis. Aku berbicara ke temanku untuk mengambil fotoku bersama lelaki itu. Tapi sayangnya bis jurusan rawamangun telah datang terlebih dahulu sehingga aku melewatkan kesempatan tersebut. Namun selama perjalanan pulang aku berdiskusi dengan temanku, "ko orang besar seperti dia naik bis bandara si?" . "Itulah bedanya orang hebat, akan selalu siap untuk susah", dan seterusnya. Siapa bapak tersebut? Beliau adalah Ahmad Syafi'i Ma'arif. Pendiri Ma'arif Institute, Ketua PP Muhammadiyah periode 2004-2009.

Berikut sedikit Informasi mengenai Bapak Syafi'i Ma'arif

Ahmad Syafi'i Ma'arif (lahir di Sumpurkudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935; umur 74 tahun) adalah mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, yang juga dikenal sebagai seorang tokoh dan ilmuwan yang mempunyai komitmen kebangsaan yang kuat. Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja telah memposisikannya sebagai Bapak Bangsa. Ia tidak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri.

Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keislaman yang kental. Lulus dari Ibtidaiyah Sumpurkudus, ia melanjutkan ke Madrasah Muallim Lintau, yang kemudian pindah ke Yogyakarta di sekolah yang sama. Ia memang mengambil seluruh pendidikan menengahnya di Mualimin Muhammadiyah. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto, Solo, hingga memperoleh gelar sarjana muda. Setamat dari Fakultas Hukum, beliau melanjutkan pendidikannya ke IKIP Yogyakarta, dan memperoleh gelar sarjana sejarah.

Selanjutnya bekas aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini, terus meneruskan menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti Program Master di Departemen Sejarah Universtias Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia.

Selama di Chicago inilah, anak bungsu di antara empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dengan bimbingan dari seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazrul Rahman. Di sana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.

Setelah meninggalkan posisnya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, kini beliau aktif dalam komunitas Maarif Institute. Disamping itu, guru besar IKIP Yogyakarta ini, juga rajin menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar. Sebagian besar tulisannya adalah masalah-masalah Islam, dan dipublikasikan di sejumlah media cetak. Selain itu, ia juga menuangkan pikirannya dalam bentuk buku. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, berjudul Dinamika Islam dan Islam, Mengapa Tidak?, kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984. Kemudian Islam dan Masalah Kenegaraan, yang diterbitkan oleh LP3ES, 1985. Atas karya-karyanya, pada tahun 2008 Syafii mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina. (wikipedia)



0 comments: